Dari :Sdri. C di Jakarta
Pertanyaan :
Putra ke-2 saya baru-baru ini pergi ke Jepang untuk study, usianya 17 tahun. Di Jepang dia tidak punya teman dan tidak ada family. Sebetulnya kami sebagai orang tua keberatan dia pilih study di Jepang, tapi tekadnya sudah tidak bisa dirubah. Kami tidak tahu kenapa yang dia pilih itu Jepang, padahal kalau ke USA atau Ausi ada sepupunya, sehingga kami tidak terlalu khawatir. Sekarang kalau saya ajak chatting dia tidak mau tiap hari. Padahal saya sangat kehilangan dia, maunya sih tiap hari ada komunikasi. Eh… dia marah katanya kalau nggak perlu ngga usah chat. Kami jadi sedih, kadang-kadang email kami tidak di jawab. Yang ingin kami ketahui kenapa anak itu bersikap demikian kepada kami? Apakah dia benar-benar mau melepaskan diri dari kami? Apakah dia ke Jepang sebagai pelarian? Mohon petunjuk Anda, terima kasih.
Jawaban:
Anak Anda memang masih muda, tapi mempunyai tekad yang kuat untuk studi di Jepang. Kelihatannya Anda yang sangat kehilangan dia, bahkan maunya tiap hari chatting. Nah, sebetulnya anak Anda studinya dimana dan disiplin ilmunya apa? Kalau tiap hari diajak chatting tentu juga mengganggu dia kalau kebetulan sedang serius belajar.
Secara rohani bagaimana, apakah anak Anda ini termasuk anak yang mempunyai hubungan dengan Tuhan secara teratur setiap hari? Kalau iya, Anda harus mulai percaya kepadanya dan terlebih percaya kepada Tuhan. Karena dimanapun berada Tuhan mampu menjaga dan melindunginya.
Selain Anda, adakah orang lain (saudara atau teman) yang dekat dengan dia? Itu bisa menjadi bahan pertimbangan untuk memonitor keberadaan anak anda di Jepang. Yang penting sekarang Anda lebih banyak berdoa dan berserah penuh kepada Tuhan. Lawan perasaan takut dan kuatir atas diri anak Anda. Percayakan penuh kepada Tuhan.
Sebagai penutup, saya ingin memberikan ayat firman Tuhan untuk direnungkan : “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Pet.5:7).





