Setiap Manusia di kolong langit ini harus mati. Dan boleh dibilang lebih dari 90% pernah sakit, apa pun sakitnya. Kenapa? Bukankah kita diciptakan sesuai dengan gambaran-Nya, apakah dengan demikian bisa diartikan bahwa Sang Pencipta juga sering migren sakit kepala seperti kita umat-Nya? Sang Pencipta itu sedemikian kuasa dan canggih-Nya, kenapa ciptaan-Nya mengalami sakit?
Orang akan lebih bisa menghayati apa artinya penderitaan sakit atau rasa nyeri itu, apabila ia sendiri pernah mengalaminya. Berapa banyak orang yang melakukan bunuh diri, karena tidak tahan menanggung rasa sakit. Orang bersedia melakukan apa pun juga untuk bisa mengurangi atau pun mengobati rasa sakit. Untuk ini tiada biaya yang terlalu mahal dan tiada jarak yang terlalu jauh untuk ditempuh demi mengurangi atau menghilangkan rasa sakit mereka. Bahkan mereka bersedia untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk diakal sekalipun umpamanya dengan minta bantuan dari para dukun dan wong pinter maupun para arwah hanya karena ingin disembuhkan dari rasa sakit.
Pada saat kita mengerang kesakitan, kita selalu mempertanyakan siapa sih ’biang keroknya’ yang mengirim penyakit ini kepada saya? Kok tegateganya menyiksa saya! Di mana letak dosa dan kesalahan saya sehingga saya harus mengalami siksaan yang sedemikian beratnya? Kenapa saya bukannya si Pulan yang lebih banyak nipeng maupun lacurnya? Where are You God? Tuhan, apa gunanya semuanya ini? Apakah Kau senang melihat umat-Mu menderita? Begitu gumam bernada protes yang acap keluar dari mulut kita.
Pertanyaan seperti ini bukan diajukan oleh orang awam seperti Anda dan saya saja, bahkan seorang Nabi yang sudah kuat imannya sekalipun tetap mengajukan pertanyaan dan keluhan yang sama “Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai.” (baca: Yer.15:18).
Saya kira jarang ada orang yang bisa mengucapkan: “Thank God for pain!” – “Terima kasih Allah atas rasa sakit ini!” Apabila sakit ini merupakan anugerah dari Allah, maka ini akan merupakan anugerah yang paling tidak disenangi maupun disyukuri. Memang sakit itu tidak enak, tetapi apabila Anda mau hidup maka Anda harus sakit, sebab itu sudah merupakan pasangannya dari kenikmatan hidup yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.
Kesakitan adalah cara untuk dapat mengikat manusia menjadi satu, lihat saja di ruang tunggu “Bagian Perawatan Intensif” (ICU) di rumah sakit manapun juga, di situ berkumpul segala macam jenis orang, dari berbagai macam agama. Campur aduk antara orang kaya dan wong kere, orang pintar dan orang bodoh, agamais maupun yang atheist. Di situlah mungkin satu-satunya tempat di dunia ini, di mana perbedaan sudah tidak ada artinya lagi.
Beraneka-ragam orang di situ diikat menjadi satu dengan sebuah ikatan yang amat kuat, walaupun mengerikan. Mereka diikat oleh keprihatinan yang sama akan kesakitan seorang yang mereka kasihi yang tengah sekarat. Dalam situasi seperti itu, kesenjangan sosial dan ekonomi dan perbedaan agama, serta-merta menguap lenyap seperti juga lenyapnya embun di siang hari bolong. Di situlah tempat dimana orang yang belum saling mengenal sekalipun pun akan bisa saling merangkul dan menangis bersama untuk saling berbagi penderitaan. Dan di situ jugalah mereka merasakan, bahwa Allah yang mereka sembah itu sebenarnya sama!
Apakah penyakit yang saya derita ini berdasarkan santet, ataukah keinginannya dari si setan, ataukah karena kehendak Allah? Apakah penderitaan saya ini merupakan hukuman atas dosa-dosa saya yang sedang dilimpahkan oleh Allah kepada saya? Atau karena ulah saya sendiri?
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasisi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).
(Mbs - Dari berbagai sumber)






