
“NEGERI ini milik kita semua, bukan milik salah satu agama. Kita semua warga negara Indonesia yang memiliki hak yang sama di bangsa ini. Rakyat harus tahu hak-haknya, dan negara/pemerintah harus melindungi rakyatnya,” seruan ini terdengar lantang oleh setiap warga yang hadir dalam aksi damai, Minggu 15 Agustus 2010 di depan Istana Negara RI.
Jemaat yang hadir mengibar-ngibarkan bendera merah-putih dan menyanyikan lagu-lagu rohani tentang semangat kemerdekaan yang diberikan Kristus. “Jika kita tidak mendapatkan kemerdekaan di bangsa ini, maka kita membutuhkan kemerdekaan dari Tuhan. Kemerdekaan yang sesungguhnya,” tandas Pdt. STP Siahaan yang berkhotbah dengan mengutip Galatia 5: 15.
Jemaat yang hadir mengibar-ngibarkan bendera merah-putih dan menyanyikan lagu-lagu rohani tentang semangat kemerdekaan yang diberikan Kristus. “Jika kita tidak mendapatkan kemerdekaan di bangsa ini, maka kita membutuhkan kemerdekaan dari Tuhan. Kemerdekaan yang sesungguhnya,” tandas Pdt. STP Siahaan yang berkhotbah dengan mengutip Galatia 5: 15.
“Merah-Putih harga mati. Burung Garuda, tidak tergoyahkan,” ungkap seorang wanita yang berkostum merah putih ini. Suasana terlihat damai, tiba-tiba perwakilan kepolisian mulai memberi instruksi, agar aksi segera dibubarkan pada pukul 15.30 karena kegiatan kenegaraan di Istana Negara akan segera berlangsung. Jika tidak maka massa akan didorong oleh petugas, serta akan digunakan water cannon.
Marthin Sirait akhirnya mengambil andil meresponi secara damai, dengan tetap menekankan kehidupan beragama di Indonesia harus dihargai. Akhirnya satu demi satu umat mulai meninggalkan lokasi.
“Mudah mengusir jemaat, sementara massa yang membuat rusuh tidak ditindak,” kata seorang jemaat. “Semoga penguasa celik matanya, ada problem kebebasan beribadah. Beribadah bebas di mana saja tanpa harus ijin timpal yang lain.
Sumber : Reformata - Lidya
Marthin Sirait akhirnya mengambil andil meresponi secara damai, dengan tetap menekankan kehidupan beragama di Indonesia harus dihargai. Akhirnya satu demi satu umat mulai meninggalkan lokasi.
“Mudah mengusir jemaat, sementara massa yang membuat rusuh tidak ditindak,” kata seorang jemaat. “Semoga penguasa celik matanya, ada problem kebebasan beribadah. Beribadah bebas di mana saja tanpa harus ijin timpal yang lain.
Sumber : Reformata - Lidya




