Thursday, May 23, 2013
   
Text Size

Kecil di Mata Manusia, Besar di Mata Tuhan

Sri RastitiEntah mengapa ya, Natal tahun ini saya memikirkan, mengapa  Betlehem kota kecil, Maria perawan sederhana, kandang yang hina dan kotor, dan gembala yang adalah rakyat pinggiran telah dipilih Allah mengukir sejarah atas sebuah kelahiran agung, Sang Mesias Yesus Kristus penebus dosa manusia itu? Allah menggunakan mereka yang sederhana berperan penting pada hari jadi Anak-Nya yang tunggal. Pikiran saya yang juga sederhana pun mulai berasumsi ria. Kadang-kadang Allah memang suka melakukan perbuatan besar diawali dengan perkara kecil. Misalnya saat Allah menciptakan manusia, mahkluk mulia ini bukan dari emas, atau perak, tetapi justru dari tanah. Seorang gembala seperti Daud, yang dipandang sebelah mata pun, dijadikan-Nya sebagai raja besar. Siapa tidak tahu nelayan yang rakyat jelata bernama Petrus yang dipilih-Nya sebagai rasul yang namanya berkibar dalam pelayanan pekerjaan Yesus?

Lantas siapa Yesus sendiri ketika masih berada di muka bumi? Anak seorang tukang kayu yang untuk meletakkan kepala-Nya pun tidak ada tempat bagi-Nya. Siapa orang-orang yang hidup di sekitar Yesus? Sebagian besar adalah orang-orang kecil, nelayan, orang miskin, pelacur, dan orang penyakitan. Tentu saja Yesus juga mengasihi orang kaya dan mapan seperti perwira yang hambanya disembuhkan, bahkan Zakheus si pemungut cukai, juga punya tempat di hati Yesus.

 

Berpuasa? Mengapa Tidak?

Berpuasa
Ketika renungan ini ditulis, sebagian besar umat Muslim sedang menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Sebagian kecil umat Kristen di Indonesia, juga melakukan ibadah yang sama, bahkan mereka berpuasa selama 40 hari. Tentu saja banyak orang, baik yang beragama Islam maupun Kristen terheran-heran, mengetahui mengapa pengikut Kristus juga “ikut-ikutan“ berpuasa. Sejak kapan?
 
Teman saya, sesama hamba Tuhan, bertanya pada saya mengapa kita harus berpuasa pada saat bulan Ramadhan? Bukankah tidak ada ketentuan hari atau bulan kapan orang Kristen harus berpuasa? Saya hanya menjawab ringan, “Kan enak, bisa puasa rame-rame, banyak teman. Alkitabiah kalau puasa pada bulan-bulan Ramadhan. ”Tentu saja itu bukan jawaban yang serius.
 

Kematian-Nya Wujud Cinta Kasih-Nya

Kematian Yesus
Sebuah kebenaran tak bisa disangkal, manusia adalah hasil karya penciptaan yang luar biasa hebat. Selain diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej 1 : 27), kita adalah mahluk ciptaan-Nya yang paling mulia. Sayang, dosa terjadi saat Adam dan Hawa tak menuruti perintah Tuhan (Kej 3. :6). Dari situ pula dosa menjadi pemisah antara kita dengan Tuhan.
 
Kendati begitu, Ia adalah Allah yang setia dan sangat mengasihi kita. Hal itu dibuktikan lewat kematian-Nya  di kayu salib demi menebus dosa kita. Namun, sebelum mati di kayu salib, sebuah proses dramatis  harus dialami Yesus. Sebelum diserahkan oleh salah satu murid-N, Yudas Iskariot, Yesus sempat didera rasa ‘takut’ yang luarbiasa (Mat. 26:39) karena akan terpisah dari Bapanya. Siksaan demi siksaan harus dijalani-Nya.Apalagi saat itu ada kepercayaan bahwa siapapun yang disalib, bukan saja dipandang sebagai hukuman yang paling hina tapi sudah pasti adalah seorang penjahat.
 

Emmaus

Emmaus
Pembacaan: Lukas 24:13-35

Apa yang terjadi setelah Kebangkitan Kristus? Ada yang mendengar tapi belum melihat, karena itu, belum percaya. Itulah yang terjadi dengan kisah dua orang murid yang kita baca.Apa arti kisah ini bagi kita saat ini? Kedua murid tidak menyadari kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka. Mengapa? Karena mereka mempunyai anggapan yang keliru tentang Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya! Mereka menganggap Tuhan Yesus akan menjadi raja seperti yang mereka harapkan. Ternyata Tuhan Yesus disalibkan dan mati, dan kata teman-teman mereka, Dia sudah bangkit! Kita juga akan kecewa apabila kita mempunyai anggapan dan kepercayaan yang keliru terhadap Kristus.
 
Misalnya :
a. Sadarkah kita bahwa mengikut Kristus berarti kita harus memikul salib?
b. Kita juga mempunyai pemikiran yang keliru tentang rencana Tuhan atas kehidupan kita.
c. Kita juga kecewa kalau kita mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. 
 

Menyongsong Sebuah Harapan Baru

SriWaktu begitu cepat berlalu. Tiba-tiba saja tanpa terasa kita sudah menjelang masuk tahun 2012. Lalu apa makna setahun berlalu melintasi garis kehidupan kita? Setiap orang mempunyai jawaban yang berbeda ketika menengok ke belakang. Sebagian orang, merasa tahun 2011 adalah tahun  promosi dan multiplikasi seperti  yang sering dikumandangkan Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo. Terjemahan bebasnya, tahun penuh berkat berlimpah-limpah. Kalau Anda mengartikan berkat yang berlimpah adalah segala sesuatu yang indah seperti pelangi, maka bagaimana dengan tahun yang penuh mendung dan badai ? Bagi orang yang berpikiran positif, tentu akan tetap mempercayai, badai pasti berlalu karena masih ada harapan pada tahun berikutnya.

 

Page 1 of 4

Pilih Bahasa

Renungan Firman

Latest Comments

  • apakah depresi bisa ditangani secara medis? More...
  • @Andi Tubagus : Silahkan pak.. bisa dituliskan sum... More...
  • Pak jagalah terus hari bapak jgn sampai goyah........ More...
  • kesaksian bung andi menjadi berkat bagi semua oran... More...
  • saluuut..., kasih Tuhan mengalir dalam dirimu. Suk... More...

Shoutbox

Subscribe to sahabatyamari

Visitor Counter


View My Stats
kesaksian
Konseling & Doa
Persekutuan Doa
Google Sitemap Generator Powered by  MyPagerank.Net

Friends Online

Powered by EvNix