
Setiap tahun kita memperingati Natal. Tetapi seberapa banyak orang yang memperingatinya dengan makna khusus, bukan sekedar pohon Natal dengan gemerlap lilin, lagu Natal yang syahdu, khotbah yang menyentuh atau bahkan kue dan hadiah yang nyaris tersedia di hari yang agung itu. Tetapi Natal tahun ini marilah kita merenung dengan agak sedikit berbeda.
Mengapa?
Kita ingat kelahiran Yesus yang adalah awal dari kasih yang melayani. Kesederhanaan, penderitaan, bekerja keras melakukan kehendak Bapa, itulah warna kehidupan Yesus. Pekerjaan yang hanya dilakukan dalam waktu seumur jagung itu telah mengubah dunia. Dan pekerjaan itu belum selesai pasti. Pekerjaan melayani yang melelahkan itu yang dilakukan Yesus sekarang menjadi tugas kita. Pelayanan macam apa? Mari kita lihat ladang yang sudah menguning yang pekerjanya masih sangat kurang. Semakin banyak orang menderita karena sakit, bencana alam, tertekan dan kekurangan, semakin banyak tugas pelayanan kita. Yesus sangat memerlukan kita. Bukan hanya kita saja yang perlu Dia.
Suatu hari saya mengajak keponakan perempuan mahasiswa semester satu dari sebuah perguruan tinggi. Untuk pertama kalinya saya ajak melayani orang sakit yang kebetulan menderita AIDS yang sudah parah. Matanya membelalak tapi sudah tak bisa melihat. Badannya tinggal tulang dan kulit. Berbagai selang terpasang di tubuhnya. Dan maaf aroma tak sedap memenuhi ruangan RSCM kelas paling murah. Dia lari keluar tak tahan dengan kondisi seperti itu. ”Saya mau melayani, tetapi jangan yang beginian“, katanya.
Ah, seandainya saja Yesus boleh memilih dalam melayani, mungkin lebih menyenangkan kalau tak usah lahir di kandang yang hina dalam sebuah keluarga miskin. Tetapi ketaatanNya kepada Bapa itulah yang terutama. Melayani dengan kasih, inilah yang dibutuhkan keluarga kita, tetangga kita, bahkan juga bangsa kita. Setiap orang Kristen wajib melayani. Bukan ketika sedang punya waktu luang. Tetapi justru dalam kesibukan. Juga bukan saat kita menjadi kaya, tetapi justru saat dalam kekurangan. Tak ada dalih untuk tidak melayani sesama. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melayani. Yesus sudah memberi contoh. Dan kita hanya merespon seperti yang dilakukan Yesaya ketika dipanggil Tuhan : Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? Maka sahutnya : “Inilah aku, utuslah aku “ (Yesaya 6:8). Yesus akan mengutus kita kemana Dia mau. Menyambut kehadiranNya adalah dengan melayaniNya. Yang belum melayani, mari kita mulai sekarang. Selamat Natal. (SR)






