
Bencana lagi, bencana lagi. Rasanya tak habis-habisnya negeri tercinta ini ditimpa berbagai petaka: Bermula bencana krisis ekonomi. Akibatnya anak bangsa yang sebagian besar terdiri atas orang miskin bukan hanya terpuruk, tapi terjerembab di Lumpur kemelaratan yang makin dalam. Lalu bencana alam yang beruntun, berawal dari Aceh dan Nias yang dilibas tsunami, kemudian gunung Merapi di Jawa tengah yang murka memuntahkan awan panas, dan isi perut lainnya, terus gempa menyapu Yogyakarta dan daerah sekitarnya, dilanjutkan dengan pantai indah Pangandaran di Jawa Barat dan pesisir Jawa bagian selatan dihajar tsunami juga. Belum berhenti sampai di sini lumpur panas menggelegak nyaris menenggelamkan Sidoarjo di Jawa Timur. Dan siapa yang menjadi korban ? Lagi-lagi rakyat kecil.
Banyak orang menafsirkan semua bencana yang menimpa tanah air kita ini mengatakan karena Tuhan marah. Alam murka karena ulah manusia yang semakin brutal, rakus dan menimbun dosa. Hutan dibabat, uang negara dikorupsi, rakyat kecil ditindas, dan warga minoritas dinjak-injak hak azasinya. Barangkati pas kalau Nabi Yesaya menuliskannya dalam pasal 33 :1. Celakalah engkau hai perusak yang tidak dirusak sendiri, dan engkau hai penggarong yang tidak digarong sendiri. Apabila engkau selesai merusak, engkau sendiri akan dirusak, apabila engkau habis menggarong engkau sendiri akan digarong.
Di sisi lain kebaktian kebangunan rohani (KKR) di gelar dimana-mana . Doa dipanjatkan, ibadah ditingkatkan bahkan puasa dilakukan. Pembicara / pengkotbah dari luar negeri didatangkan bersama para pendeta dan Hamba Tuhan domestic melayani kegiatan tersebut. Doa bergema menembus cakrawala di atas Nusantara. "Tuhan , kasihanilah kami .Engkau kami nanti-nantikan. Lindungitah kami setiap pagi dengan tanganMu, ya selamatkanlah kami di waktu kesesakan (Yes 33:2).
Baiklah. Itu yang terjadi di negeri seribu pulau ini. Lantas apakah alam masih akan mendemontrasikan kegeramannya dan Tuhan seolah tidak menjawab doa umat-Nya? Terlalu banyak yang memang tidak bisa kita mengerti, mengapa semua ini terjadi . Tetapi Allah tidak pernah menuntut agar kita mengerti semua yang terjadi. Bagi kita anak-anakNya hanya dituntut agar kita tetap percaya kepada-Nya. Percaya apanya? Semuanya. Percaya kepada kasih-Nya, kekuatan-Nya, hikmat-Nya, rencana-Nya, janji-Nya. Jangan sampai badai petaka itu ikut menghancurkan kepercayaan kita kepada-Nya. Karena kalau hal itu yang terjadi, itulah bencana dan mala petaka yang sesungguhnya. Menurut ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mungkin masih akan terjadi bencana alam lagi, lebih kecil atau mungkin lebih besar.
Mari kita simak apa kata Yesus di tengah badai dan gelombang dan kegelapan malam: “Tenanglah! Aku ini jangan takut !" (Mat.14 :_27 b).
Nah kalau sudah begini, "So what gitu toh "
( Sri Rastiti )






