Waktu begitu cepat berlalu. Tiba-tiba saja tanpa terasa kita sudah menjelang masuk tahun 2012. Lalu apa makna setahun berlalu melintasi garis kehidupan kita? Setiap orang mempunyai jawaban yang berbeda ketika menengok ke belakang. Sebagian orang, merasa tahun 2011 adalah tahun promosi dan multiplikasi seperti yang sering dikumandangkan Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo. Terjemahan bebasnya, tahun penuh berkat berlimpah-limpah. Kalau Anda mengartikan berkat yang berlimpah adalah segala sesuatu yang indah seperti pelangi, maka bagaimana dengan tahun yang penuh mendung dan badai ? Bagi orang yang berpikiran positif, tentu akan tetap mempercayai, badai pasti berlalu karena masih ada harapan pada tahun berikutnya.
Tetapi bagi orang yang pesimis tahun baru akan disambut dengan harap-harap cemas.Di posisi manapun saat ini Anda berdiri, menyambut tahun 2012 dengan senyum penuh harapan atau sebaliknya dengan asa yang nyaris punah, waktu terus berjalan. Tetapi bagi orang percaya harapan selalu ada. Karena harapan adalah sebuah janji dari Tuhan Yesus yang teruji. Bukankah rancangan Tuhan bukan rancangan kecelakaan, melainkan hari depan yang penuh harapan? (Yeremia 29:11). Bukankah Abraham meskipun tidak ada dasar untuk berharap maka dia tetap berharap juga, dan itu diperhitungkan sebagai suatu kebenaran? (Roma 4:18).
Sebenarnya terlepas harapan itu menjadi sebuah kenyataan atau tidak, bukankah lebih baik harapan itu tetap ada, karena ada dasar Firman Tuhan yang melandasinya. Kalau harapan itu menjadi suatu kenyataan, tentu akan menuai suka cita. Tetapi kalau harapan itu tidak menjadi kenyataan, seperti yang diinginkan, sebenarnya tidak perlu kecewa. Karena di balik semua itu ada rencana Tuhan yang lebih indah dari apa yang diharapkan manusia. Kalimat terakhir ini barangkali ditanggapi orang dengan sinis bagi mereka yang kecewa karena harapan yang kandas. “Ah, kalimat itu hanya angin surga yang dihembuskan dari mimbar gereja.”
Jangankan kita manusia biasa, Sarah–istri Abraham yang disebut Bapa orang beriman pun–harapannya menjadi gonjang ganjing manakala anak yang dijanjikan Tuhan tak kunjung hadir dari rahimnya yang sudah mati haid itu. Dia pun mengucapkan selamat tinggal kepada harapan yang berkepanjangan untuk mencari jalan sendiri yang dikiranya lebih bijaksana dan cespleng. Maka disusunlah sebuah rencana untuk mewujudkan harapannya yang kabur. Abraham harus punya keturunan, meskipun anak yang lahir bukan dari kandungannya. Seorang hambanya perempuan, Hagar disodorkan kepada Abraham menggantikan dirinya di tempat tidurnya. Tampaknya harapannya itu berhasil, karena Hagar kemudian melahirkan Ismail, bagi Abraham. Bahwa Ismail bukanlah anak perjanjian seperti yang difirmankan Tuhan kepada Abraham, Sarah tidak peduli, sementara Abraham pun oke-oke saja pada waktu itu. Kemudian bencana terjadi sampai akhir zaman, ketika Ishak anak perjanjian yang menjadi harapan Sara dan Abraham itu lahir. Sejarah berceritera panjang tentang keturunan kedua anak Abraham itu.
Desember adalah bulan terakhir di ujung tahun, yang juga adalah bulan saat umat kristiani merayakan Natal, kelahiran Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Dialah harapan yang tak kunjung padam dalam kehidupan dunia yang gelap. Jangan seperti Sara, menepis harapan yang diberikan Allah, dan menciptakan harapan versinya sendiri. Anda pasti bukan yang seperti Sara, karena itu mari kita sambut tahun 2012 dengan harapan baru yang gilang gemilang. Ini bukan sekedar angin surga, tapi sebuah janji yang pasti yang diwujudkan dari sebuah kandang di Betlehem, lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Selamat Natal dan Selamat Tahun Baru 2012.
(Sri Rastiti)





