
Sebuah kebenaran tak bisa disangkal, manusia adalah hasil karya penciptaan yang luar biasa hebat. Selain diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej 1 : 27), kita adalah mahluk ciptaan-Nya yang paling mulia. Sayang, dosa terjadi saat Adam dan Hawa tak menuruti perintah Tuhan (Kej 3. :6). Dari situ pula dosa menjadi pemisah antara kita dengan Tuhan.
Kendati begitu, Ia adalah Allah yang setia dan sangat mengasihi kita. Hal itu dibuktikan lewat kematian-Nya di kayu salib demi menebus dosa kita. Namun, sebelum mati di kayu salib, sebuah proses dramatis harus dialami Yesus. Sebelum diserahkan oleh salah satu murid-N, Yudas Iskariot, Yesus sempat didera rasa ‘takut’ yang luarbiasa (Mat. 26:39) karena akan terpisah dari Bapanya. Siksaan demi siksaan harus dijalani-Nya.Apalagi saat itu ada kepercayaan bahwa siapapun yang disalib, bukan saja dipandang sebagai hukuman yang paling hina tapi sudah pasti adalah seorang penjahat.
Penghinaan, pelecehan, dan siksaan memang tak seharusnya dialami Yesus. Namun, dengan penuh kerendahan hati dan karena kasih-Nya pada kita, Ia rela menanggalkan segala atribut keilahian-Nya itu. Kini, 2000 tahun lebih kisah penyaliban itu telah berlalu.Ironisnya, ada yang berpendapat bahwa itu hanyalah bagian dari sejarah agama bahkan dongeng semata. Padahal, jika kita menelisik lebih jauh, pengorbanan yang dilakukan-Nya adalah bukti kecintaan-Nya pada kita. Lantas, apakah kita sudah menyenangkan hati-Nya lewat perbuatan yang mencerminkan bahwa kita adalah anak yang dikasihi-Nya?
Tanpa bermaksud menghakimi, tanpa disadari, pelanggaran-pelanggaran yang kita lakukan bisa dibilang justru sudah menjadi gaya hidup. Sebagai contoh, betapa sulitnya kita mengampuni, saat ada yang mengecewakan dan membuat sakit hati. Yang memprihatinkan, kekecewaan tersebut terkadang tersimpan hingga bertahun-tahun lamanya bahkan ada pula sampai dibawa ke liang lahat. Padahal, Yesus mengajarkan kepada kita untuk melepas pengampunan seperti Ia yang tak memperhitungkan dosa kita. Bahkan, kita diharuskan untuk mengasihi dan memberkati setiap orang yang membenci kita.
Sebagai manusia, secara nalar tentulah aplikasi ajaran tersebut dirasa sulit. Jangankan mengampuni dan mengasihi sesama, pasangan suami istri pun yang sudah ‘satu daging’ begitu sukar meminta maaf dan melepas pengampunan. Dan lebih mudah mengumbar kata ‘cerai’ yang seharusnya. Tak hanya dilarang keras untuk diucapkan, tapi juga tabu dilakukan. Memang, butuh kerendahan hati untuk bisa melakukan itu semua. Tapi bukan berarti tidak mampu melakukannya. Semuanya dapat diwujudkan jika kita menyerahkan otoritas Tuhan untuk membentuk hati kita seturut dengan kehendak-Nya. Seperti Ia yang total menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.
Makin jelas bahwa pengorbanan-Nya bukan tanpa alasan. Apalagi hanya ingin membuat sensasi semata dalam kisah peradaban manusia. Melainkan bukti betapa Ia mengasihi kita dengan segala kekurangan dan dosa kita. Sudah sepatutnya kita menjalankan ketetapan-Nya demi menuju hidup yang kekal. Sebab jelas kehidupan fana yang kita jalani sekarang akan punah pada saat kedatangan-Nya. Pengorbanan-Nya yang tak ternilai harganya seharusnya menjadi acuan bagi kita dalam menjalani kehidupan ini sekaligus wujud ucapan syukur atas anugrah-Nya. Ambil keputusan saat ini juga mumpung belum terlambat untuk menyenangkan hati-Nya dan membuktikan kalau kematian-Nya tidak pernah sia-sia. Sebab akan tiba saatnya kita semua harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di hadapan-Nya. (Bety Bahagianty)




