
agar kami beroleh hati bijaksana
Ajar kami Bapa, hidup dalam jalan-Mu
agar semua rencana-Mu digenapi…
Tentu bukan tanpa kisah saat pasangan suami isteri Robert dan Lea Sutanto menulis lirik lagu rohani yang populer di akhir 1990-an ini. Penyertaan Tuhan dalam hidup kita dari hari ke hari merupakan sebuah rangkaian mujizat, bagaimana Ia mencukupi kebutuhan, membuat raga kita sehat, hingga menjadikan lingkaran berkat yang bisa kita bagi maupun ambil pada saatnya masing-masing.Fenomena ini kemudian selalu membuahkan pertanyaan setiap usia kita bertambah. Apa yang sudah kita lakukan sepanjang usia ini? Benarkah dalam perjalanan hidup yang bertambah setahun itu sudah menjadi berkat bagi sesama? Pun demikian dengan Yayasan Marturia Indonesia (YAMARI) yang memasuki usia ke-33 tahun terus diasah untuk mencemerlangkan visi dan misi yakni memanggil orang yang tidak benar supaya menjadi benar.
Indo Italia itu bernama Max Valerio. Muda, tampan, dan bergelar pendeta. Yang membedakan Maxi, begitu dia akrab disapa, dengan pendeta yang lain, adalah dia penggemar lagu berirama keroncong sekaligus suka menyanyikannya. Bahkan beberapa waktu lalu, dia mengisi sebuah acara di Solo mendampingi maestro keroncong Indonesia, “Si Walang Kekek” Waljinah. Tentu saja pertunjukkan ini merupakan sesuatu yang unik. Lajang bule yang adalah warga negara Indonesia ini, menyanyikan lagu irama keroncong dengan penuh penghayatan. Saya teringat, suatu ketika ia menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dengan nada yang menyentuh hati dan bahasa Indonesia yang fasih, di rumah salah satu mantan petinggi negara di awal tahun ini. Di situlah saya pertama kali mengenalnya. Penampilannya yang cuek mengusik rasa ingin tahu saya. Siapa bule satu ini yang “cuek bebek”? Ternyata ia seorang hamba Tuhan. Bukan pendeta gembala, tetapi pemberita Injil. Max mengawali pelayanannya sebagai penginjil di tahun 2000 selama lima tahun.







