Indo Italia itu bernama Max Valerio. Muda, tampan, dan bergelar pendeta. Yang membedakan Maxi, begitu dia akrab disapa, dengan pendeta yang lain, adalah dia penggemar lagu berirama keroncong sekaligus suka menyanyikannya. Bahkan beberapa waktu lalu, dia mengisi sebuah acara di Solo mendampingi maestro keroncong Indonesia, “Si Walang Kekek” Waljinah. Tentu saja pertunjukkan ini merupakan sesuatu yang unik. Lajang bule yang adalah warga negara Indonesia ini, menyanyikan lagu irama keroncong dengan penuh penghayatan. Saya teringat, suatu ketika ia menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dengan nada yang menyentuh hati dan bahasa Indonesia yang fasih, di rumah salah satu mantan petinggi negara di awal tahun ini. Di situlah saya pertama kali mengenalnya. Penampilannya yang cuek mengusik rasa ingin tahu saya. Siapa bule satu ini yang “cuek bebek”? Ternyata ia seorang hamba Tuhan. Bukan pendeta gembala, tetapi pemberita Injil. Max mengawali pelayanannya sebagai penginjil di tahun 2000 selama lima tahun.
Beberapa negara sudah dijelajahinya, antara lain, China, Jerman, Inggris, dan tentu saja Italia. Pengetahuan teologinya diperoleh saat ia kuliah di Harvest Karawaci - Tangerang dan berkembang serta bertumbuh yang menurutnya sesuai panggilan ilahi.
Bahwa Max menyukai lagu keroncong itu lain lagi. Menurutnya, ia jatuh cinta dengan irama keroncong karena iramanya agak dekat dengan musik klasik yang memang menjadi kesukaannya. Karena setengah dari darahnya adalah Indonesia yang diperoleh dari ibunya yang berasal dari Yogya. Maka ia juga terpanggil untuk ikut melestarikan budaya Nusantara ini. Akhir November ini di sebuah kafe di Jakarta Selatan, Berita YAMARI mewawancarainya. Meskipun wajahnya serius, tetapi Max dengan antusias menjawab berbagai pertanyaan kami.
Berikut ini petikan wawancaranya :
Sejak kapan Anda berada di Indonesia? Dan kegiatan apa yang Anda lakukan?
Saya datang ke Indonesia tahun 2000. Karena keluarga saya tinggal di Indonesia dan pernah bersekolah di Seminari Harvest juga karena ada panggilan ke desa dan mendapat bimbingan dari bapak-bapak rohani saya. Tahun 2005 memulai pelayanan di GBI, kemudian pelayanan ke berbagai denominasi gereja di Indonesia.
Kenapa memilih bidang pelayanan?
Pilihan ini karena Tuhan, bukan pilihan saya. Ini panggilan hati saya, dengan segala keterbatasan daya yang ada pada saya. Saya pernah melakukan usaha lain tapi Tuhan panggil kembali menjadi pelayan-Nya. Banyak kendala, namun kehadiran saya menjadi berkat. Saya merasa di panggilan ini ada pengaruh terhadap kehidupan saya.
Apakah cita-cita Anda sejak dulu memang ingin menjadi pendeta?
Dahulu saya ingin menjadi seorang penyanyi klasik dan top, juga pengusaha. Tetapi Tuhan menggerakkan untuk memulihkan gereja dengan doktrin yang benar dan murni. Barangkali seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis. Cita-cita saya ingin mempersiapkan hamba-hamba Tuhan dalam pelayanan seperti itu. Dulu saya mempunyai banyak cita-cita. Salah satunya punya mobil mewah dan terkenal.
Dalam pelayanan Anda, apakah hal yang paling menarik?
Pelayanan bagi saya pelayanan merupakan pengabdian. Di dalam pelayanan saya menemukan ada kuasa Tuhan, ada mukjizat. Jadi kalau pelayanan gereja tidak ada targetnya, akhirnya banyak yang tidak fokus.
Menurut pendapat Anda bagaimana dengan pelayanan gereja masa kini?
Gaya saya adalah ”to the point” seperti Musa. Karakter yang dikuduskan. Semua orang pakai karakternya masing-masing. Tidak mencari kepentingan. Karakterku lebih cocok dengan karakter orang Surabaya atau Medan, terus terang, terbuka. Itu prosesnya sama. Pasti ada saja orang yang menolak sikapku. Misalnya, masih ada beberapa orang yang suka Firman seperti makan bubur yang lunak, suka dengan janji-janji yang manis dan berkat saja, atau yang masih suka susu. Gereja yang seperti itu bukan panggilan saya.
Pandangan Anda?
Jadi to the point seperti Musa yang emosional, tetapi Tuhan menguduskan Musa. Bagaimana Musa membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Pelayanan bukan mengubah karakter tapi yang sudah ada dikuduskan. Kalau dulu emosional, bukan seperti putri solo yang lembut, maaf sepertinya, dibuat-buat jadi aneh. Tapi Tuhan tetap memakai karakter semua orang.
Yang namanya pelayanan ‘kan tidak selalu mulus. Kendala apa yang Anda hadapi?
Aku agak sulit bekerja sama dengan sebagian jemaat lokal, karena saya tegas. Susah. Mungkin karena aku dibesarkan di Eropa. Kalau kerja sama saya ingin untuk lebih cepat. Karena budaya saya mungkin. Kalau aku lebih baik terbuka untuk ngomong-ngomong. Mungkin kurang bisa kerja sama dengan gereja lokal, mungkin maksud saya masih harus berpikir, bila bilang “ya”, harusnya juga “ya”. Makanya saya bikin sendiri, itu memang susah, harus membaca kata-kata orang. Mungkin kalau saya lahir di sini mungkin bisa mengerti, karena aku lahir di sana banyak saudara dan familiku yang di sini komunikasi jadi kendala untuk kerja sama, saya maunya kerja cepat. Di sini banyak rapat dengan motivasi yang beda, yaitu karena budaya dan pendidikan yang berbeda. Harus terbuka, di depan baik, khotbah bagus tapi di belakangnya ngomong lain.
Maxi terkadang membahasakan dirinya dengan “aku”, terkadang dengan “saya”, memang bicaranya ekspresif, seperti biasanya bule berbicara. Tetapi budaya bulenya memang diakuinya sering tidak bisa diterima di negeri ini, terutama suku-suku tertentu yang masih mengutamakan menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung. Apalagi kalau berhadapan dengan orang Jawa, yang sering harus lebih dahulu mengartikan makna dari pada bahasa.
Jadi Anda berpikir negatif kepada orang lain, merasa diri benar. Apa itu bukan kesombongan rohani?
Kita harus hati-hati, harus jaga pelayanan Tuhan. Banyak gereja yang tidak berani menyatakan kebenaran Firman, karena takut mungkin orang tersinggung. Apalagi sebagai pemimpin gereja harus berani membuka kebenaran Firman. Itu lebih baik.
Pelayanan di negara mana yang paling berkesan?
Di Jerman dan China. Sedangkan di Inggris dan Italia kurang respon. Karena mereka menutup hatinya, tergantung panggilan itu dari hati Allah.
Anda menggemari musik, irama, dan lagu keroncong? Kegiatan Anda yang lain?
Saya memang penggemar musik keroncong. Kegiatanku selain melayani juga menyediakan dan mengirim makanan ke beberapa restoran Italia.
Apakah prinsip dalam kehidupan Anda ?
Kita sebagai hamba Tuhan harus jaga hati.
Apa makanan yang Anda suka?
Gado-gado, masakan Sunda, dan lalapan.
Ke depan, apa yang Anda inginkan?
Pelayanan ke Asia, China. Gerakan mental spiritual di sana maju pesat. Aku juga ingin bekerja sama dengan partner mengadakan seminar. Tidak jadi gembala.
Kenapa Anda suka dengan irama keroncong?
Karena musik ini mirip seriosa, mungkin dikatakan zadul (zaman dulu). Ini sebenarnya adalah aset budaya. Bukan seperti budaya barat. Lagu keroncong yang disukai adakah seperti Juwita Malam, Indonesia Raya?
Bagaimana dengan panggilan Tuhan untuk menikah? Apakah tidak mencari pasangan?
Sedang mencari pendamping, tetapi bukan di satu tempat. Belum ketemu yang sesuai dengan jiwa saya yang bermental gaya barat. Yang rohani banyak. Maunya orang Indonesia yang pernah ke luar negeri. Kalau dirasakan ya, sendiri berat, berdua pun berat.
Masalah perkawinan?
Banyak perkawinan diberkati. Tetapi juga kemungkinan kalau tidak saling mendukung sehingga menikah hanya menjadi setoran.
Apakah anda pernah merasakan frustasi ?
Ya. Semua orang pasti mengalami frustasi. Pendeta pun pasti frustasi. Frustasi rohani tetapi tetap kudus. Keinginan kita sendiri yang tinggi, ingin terkenal, ingin kaya sehingga merosot pengajarannya. Frustasi rohani penting. Jangan huhu haha. Seperti Tuhan Yesus waktu di Bait Allah, banyak yang berdagang. Dia frustasi karena di Bait Allah mereka mencari keuntungan. Makin duniawi, hanya mencari keuntungan.
Bagaimana mengatur antara acara bernyanyi dan pelayanan?
Dilakukan dalam berbagai format. Seperti pelayanan orkestra, jazz, keroncong, klasik. Itu rohani. Atur jadwal yang bisa semua suka. Bukan hanya khotbah tapi juga harus cek tempat, apakah bahaya atau tidak untuk acara kegiatan tersebut. Di kafe semakin ramai sekitar jam tiga sore itu.
Max menyudahi wawancaranya karena akan melayani di tempat lain. Ia menjabat tangan kami. Erat dan bersahabat. (Sri Rastiti/Agung Minarso)




