
Apakah Anda terbiasa bekerja dengan baik hanya jika disaksikan bos? Maret lalu, saya berkesempatan ke Amerika Serikat untuk memenuhi undangan Kementerian Luar Negeri AS sebagai peserta International Visitor Leadership Program (IVLP) 2012 bertema “Peliputan Pemilu di Era New Media”. Sebelum tiga pekan berkeliling ke 6 negara bagian negara Paman Sam itu, saya mendapat briefing di kantor kedutaan besar Amerika Serikat di kawasan Medan Merdeka, Monas, Jakarta.
Masuk ke ruangan penuh lorong yang steril dan tertutup pengamanan ketat itu, sampailah saya di bagian ruang atase khusus yang menangani program pertukaran internasional. Menarik, saat masuk ke ruangan itu. Saya melihat semacam poster kardus Barack Obama seukuran manusia sebenarnya. “Presiden Obama” tampak dalam posisi duduk, persis di meja depan sang atase. Apa maknanya? Tak susah menebak. Meski berada belasan ribu kilometer dari Gedung Putih, sang pejabat kedutaan akan selalu bekerja optimal, karena ia merasa berada dalam “sorotan” bos, seolah-olah apa yang dikerjakannya langsung diawasi orang nomor satu di negara adidaya itu. Di beberapa kantor lain, variasi tiruan Presiden Obama dipasang dalam berbagai posisi, termasuk berdiri di samping meja kerja.
Sampai di Washington DC, saya menjumpai keunikan yang memberikan pesan serupa. Hari kedua tiba di ibukota AS, kami menjalani acara city tour alias keliling kota menikmati tempat bersejarah maupun peninggalan penting bagi perjalanan negara berpopulasi terbesar ketiga di dunia itu. Tiba di Thomas Jefferson Memorial, kami tertegun dengan penjelasan pemandu tur.
Taman seluas 18 are di sisi Sungai Potomac yang membelah kota Washington ini dimaksudkan untuk menghormati salah satu pendiri negara, sekaligus presiden ketiga dalam sejarah AS. Selain rerumputan yang luas, memorial ini dilengkapi dengan patung perunggu Thomas Jefferson setinggi 5,8 meter dan berat 4336 kg. “Patung ini sengaja dibuat menghadap Gedung Putih, sehingga Presiden Amerika Serikat, siapa pun itu, dalam bekerja akan merasa diawasi oleh peletak dasar negara ini,” kata Ken Insley, konsultan politik yang menjadi pemandu kami.
Adalah penting bagi setiap presiden untuk bekerja menjamin berjalannya konstitusi dan pandangan dasar AS, yang menjamin kebebasan beragama setiap warganya, sebagaimana tertera dalam inskripsi di patung itu “Almighty God hath created the mind free...All attempts to influence it by temporal punishments or burthens...are a departure from the plan of the Holy Author of our religion..” Dengan ‘diawasi’ salah seorang bapak bangsa, meski hanya diwakili patung raksasanya, sudah seharusnya setiap presiden AS yang bekerja di seberang Taman Jefferson akan bersungguh-sungguh menjalankan amanat bangsa.
Bekerja Tanpa Bos
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda biasa bekerja tertib dan teratur hanya saat ada pemimpin, bos, direktur, atau kepala kantor di dekat Anda? Jika iya, selayaknya kita malu pada orang-orang Amerika, yang bekerja giat dengan tatapan mata poster kardus presidennya. Juga dari kerja keras sang presiden di White House, yang berusaha menunjukkan kinerja optimal agar tak mengkhianati amanat pendiri bangsa yang mengamatinya dalam bentuk patung raksasa di seberang sungai.
Dalam semangat Paskah ini, mari kita ingat, meski Tuhan Yesus tak ada langsung dalam wujud tiga dimensi manusia, semangat dan mata-Nya selalu ada melihat setiap aktivitas kita. Pada setiap sisi kehidupan, mari berikan yang terbaik pada Bos Agung kita! "Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik." (Amsal 15:3). Oleh : Jojo Raharjo




