Jika Anda telah merasakan kebaikan Tuhan Yesus dalam kehidupan Anda dan ingin membagikannya agar dipublikasikan di website ini bisa mengirimkannya ke email
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Kiranya kesaksian Bapak/Ibu bisa menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan Yesus Memberkati.

Kesaksian Andy Noya
Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Selain butuh persetujuan saya, juga butuh biaya untuk proses operasi.
Soal persetujuan, relatif mudah. Saya sudah menyiapkan mental menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara. Risiko itu sudah saya pahami.
Kesaksian Ev. Feba Affan
Namaku FANI. Aku terlahir dari sebuah keluarga berada dengan 14 bersaudara. Meski kami berkelimpahan namun hidup dalam keluarga besar seringkali tak begitu akrab satu sama lain karena masing-masing sibuk dengan urusan pribadinya. Sebabnya adalah Ayahku, seorang penganut poligami. Ia memiliki 4 istri yang hidup dan tinggal dalam satu area.
Ibuku adalah istri termuda dan hanya memiliki dua orang anak, yaitu aku, seorang perempuan dan Dodi adikku lelaki. Ayah dan ibuku adalah dua pribadi yang sangat keras. Mereka dipertemukan oleh nasib yang sama, saat mereka hidup di perantauan. Kerasnya hidup di kota besar membentuk pribadi yang kuat dan tahan uji. Menurut ibuku, ketika kawin dengan ayahku, ia tidak tahu bahwa ayahku sebelumnya telah memiliki 3 orang istri di kampung.

Keterbatasan fisik bukanlah pasung untuk melayani Tuhan. Meski jari kaki dan tangannya tak lengkap, hal tersebut tidak meyurutkan semangatnya. Tak kenal lelah, ia terus melintasi desa sembari mewartakan jalan keselamatan.
Wanita kelahiran Jakarta, 27 November 1966 ini merupakan salah satu penginjil di YAMARI. Sejak bergabung 12 tahun lalu, Juningsih Gunawan aktif ambil bagian melayani, baik dalam hal berkotbah, memberi penyuluhan, worship leader hingga pelayanan dapur. Hal itu dilakukannya dengan penuh kasih lantaran ia rindu agar makin banyak orang yang bisa mengecam kasih dan kebaikan Tuhan. Seperti yang dia alami.
“Kerinduan saya adalah agar makin banyak orang yang mendengar dan mengenal Injil,” ucapnya bersemangat. Demi kerinduannya itu, Juningsih harus bekerja mencari uang untuk mendukung misi tersebut. Tak dipungkiri, untuk terjun di dunia penginjilan memang diperlukan dana yang cukup besar. “Apalagi tim kita harus membiayai sendiri setiap perjalanan misi yang kami lakukan.

Nama saya Djumhana Kartasasmitha, lahir dari keluarga besar yang non Kristen. Kami sebelas bersaudara. Boleh dikatakan keluarga saya sangat taat beribadah atau menjalankan ritual-ritual keagamaan.
SAYA menjalankan ritual agama saya selama empat puluh sembilan tahun dengan taat. Karena memang, sejak kecil saya menjalankan ibadah dengan taat dan diajar melakukan semua ajaran agama dengan benar dan tertib.
Namun selama menjalankan itu semua, saya tidak pernah mendapatkan damai sejahtera. Bertahun-tahun saya menantikan damai sejahtera yang sejati tetapi tidak kunjung datang.
Saya lalu bertanya-tanya apa yang terjadi kalau suatu saat saya meninggal? Akan ke manakah saya kalau saya meninggal nanti?