Kesaksian Ev. Feba Affan
Namaku FANI. Aku terlahir dari sebuah keluarga berada dengan 14 bersaudara. Meski kami berkelimpahan namun hidup dalam keluarga besar seringkali tak begitu akrab satu sama lain karena masing-masing sibuk dengan urusan pribadinya. Sebabnya adalah Ayahku, seorang penganut poligami. Ia memiliki 4 istri yang hidup dan tinggal dalam satu area.
Ibuku adalah istri termuda dan hanya memiliki dua orang anak, yaitu aku, seorang perempuan dan Dodi adikku lelaki. Ayah dan ibuku adalah dua pribadi yang sangat keras. Mereka dipertemukan oleh nasib yang sama, saat mereka hidup di perantauan. Kerasnya hidup di kota besar membentuk pribadi yang kuat dan tahan uji. Menurut ibuku, ketika kawin dengan ayahku, ia tidak tahu bahwa ayahku sebelumnya telah memiliki 3 orang istri di kampung.
Pengakuan yang jujur baru diberikan ayah ketika bisnis mereka mulai berhasil. Tapi dalam suasana berkelimpahan dan “mandi uang” seperti itu ibuku rupanya tidak terlalu mempermasalahkan pengakuan itu. Malah ibuku dengan ikhlas menerima seluruh anggota dari ketiga istri ayahku itu ketika daerah mereka hancur karena bencana alam. Ibu rela menolong, toh yang berstatus istri sah cuma dirinya. Apalagi rumah kami yang besar, sangat nyaman dan cukup menampung mereka.
Marah dan dendamKejadian 37 tahun yang lalu menjadi pemicu kebrutalanku. Saat itu aku berumur 8 tahun, dan baru duduk di kelas 2 SD. Siang itu ketika aku sedang bermain sendiri di kamar, seorang kakak tiriku, SETA, tiba-tiba masuk dalam keadaan mabuk, dan langsung memperkosa aku.
Tidak berdaya, takut, malu dan trauma membuat aku cuma bisa diam. Apalagi kakakku menekanku dengan berbagai ancamannya. Mulai hari itu, aku sering berteriak-teriak dalam tidur, menyendiri di rumah, tak bergairah di sekolah, tak pernah mau ikut berlibur dengan saudara-saudara tiriku. Aku mulai dianggap aneh karena perubahan itu sepertinya menetap, terus menerus.
Memang dunia serasa runtuh. Aku merasa hampa. Marah dan dendam. Dalam diam aku membangun kepribadianku sendiri selama duduk di SD. Ketika memasuki SMP aku mulai memakai kuasa dan wibawa ibuku sebagai istri sah. Dan sebagai anak sulung aku mulai menetapkan pembatasanpembatasan di rumah. Malah aku berhasil menekan balik kakakku yang tertua untuk keluar rumah karena ia sudah bekerja di perusahaan saudara ibunya.
Aktivitas rumah mulai berwarna ketika permintaanku dikabulkan ibuku untuk mengajak kawan-kawan sekolahku yang rata-rata anak gaul itu. Maka mulai saat itu, rumahku jadi posko anak nongkrong.
Pertahanan jebol
Dengan kebebasan yang diberi orang tua, aku kian menjadi-jadi. Di rumah kami bisa dengan bebas merokok, mencoba ganja, druks dan terlibat seks bebas.
Kebiasaan itu berlanjut sampai SMA.
Tapi, ternyata pertahananku jebol juga, kenikmatan hidup bebas membuat aku terperdaya oleh seorang kawan lelaki dalam sebuah organisasi pecinta alam dimana aku menjadi anggotanya. Dari hasil hubungan gelap itu aku hamil. Aku mencoba menutupinya, tapi tetap ketahuan juga.
Pacarku meminta segera menggugurkan kandungan, ibuku juga begitu. Tetapi aku menolak keras. Akhirnya untuk menjaga wibawa keluarga aku dibuang ke luar negeri. Tanpa ku ketahui rupanya rencana mengasingkan aku keluar negeri itu dengan tujuan untuk menggugurkan kandungan.
Maka ketika sampai di rumah sakit aku dipaksa menandatangani pernyataan pengguguran, tapi aku menolaknya keraskeras. Penolakan itu membuat ibuku dan keluarga berang. Kemudian mereka memutuskan meninggalkan aku sendiri di luar negeri dan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab hidupku dan anakku hanya dengan bekal $ 5. Dan hubungan kami putus.
Babak baru
Dengan keras hati aku memaksa diri untuk kuat. Aku membuat kesepakatan dengan pihak rumah sakit dengan meninggalkan anakku disana untuk diserahkan kepada badan sosial. Rumah sakit bersedia dengan ketentuan, saya tidak boleh mengambil inisiatif apapun mendekati anak saya bila sudah diadopsi orang lain.
Pertemuan dengan anak hanya boleh dilakukan setelah ia sudah berumur 18 tahun dan itupun apabila sang anak bersedia. Tanpa pikir panjang aku menandatangani kesepakatan itu. Maka mulailah babak baru dalam hidupku untuk meraih masa depanku. Dengan berbagai pergulatan hidup selama 20 tahun aku berhasil merubah hidup dan kemudian bertemu kembali dengan anakku secara dramatis.
Bagaimana lika-liku aku bertobat dan berjuang adalah sebuah jalan panjang yang penuh pergumulan. Aku diangkat kembali oleh Tuhan menjadi pribadi yang baru. Aku memang disayang Tuhan. Ketika aku menerima Dia sebagai Juruselamat, hidupku pun diubahkan. Hidup lama sudah berlalu dan hidup baru telah datang. Kini keluargaku pun telah diubahkan.
Josh-Drama Production





