Monday, February 06, 2012
   
Text Size

Cinta tak Terhalang Kelumpuhan

kesaksian
Buktikan kalau kalian bisa hidup mandiri. Buktikan pada orang-orang. Ingat, kalian tidak hidup sendiri, ada lingkungan, masyarakat dan Gereja...
Kalimat tersebut keluar dari mulut Romo Vincentius Surya ketika memberkati pernikahan Pinter-Lily pada 18 Juni 2004 di Gereja St. Anna Duren Sawit, Jakarta Timur. Ketiga kalimat itu seakan menikam jantung Pinter Samosir dalam-dalam. Dadanya lalu berdegup, sebuah tekad menggumpal ingin cepat-cepat memberi bukti. Sesekali ia memandang wanita di sampingnya yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya. Ada senyum di bibirnya. Penuh bahagia.

Usai menyapa Pinter dan Lily, Romo sejenak mengubah sasaran khotbahnya, yakni kepada umat yang hadir. “Mereka dipertemukan oleh Tuhan. Kita harus dukung dan doakan mereka. Kita jangan lihat dari segi ekonomi dan keadaan fisik tapi lihatlah mereka sebagai manusia ciptaan Tuhan. Jangan khawatir soal kehidupan mereka besok” ungkap sang Romo.

Pinter dan Lily adalah pasangan penyandang cacat yang saling jatuh cinta dan kemudian sepakat menyatukan kedua hati mereka dalam ikatan perkawinan. Kondisi cacat keduanya nyaris sama, hanya musabab kecacatan mereka yang berbeda.

Pinter adalah pria kelahiran Medan, 16 juni 1971. Ia lahir dalam sebuah keluarga petani dengan tujuh saudara. Karena keinginan untuk masuk ABRI, pada Agustus 1991 dia meninggalkan Medan menuju Papua. “Saya kira kalau masuk ABRI dari Irian Jaya lebih mudah. Nggak tahunya saya malah bekerja di sebuah perusahaan Korea,” jelas Pinter ketika ditemui di rumahnya yang sederhana di Komplek Permata Hijau Permai, Bekasi Utara.

Meski tidak sesuai harapan awalnya ketika berangkat ke Irian, Pinter sangat menikmati pekerjaannya sebagai supir. Baginya, apa pun harus dikerjakan dengan segenap hati. Namun tanpa disangka, pada 26 Maret 1995 dia mengalami kecelakaan kerja. Mobil tangki yang dia kemudikan tergelincir dan terguling-guling sehingga sebuah kecelakaan besar dan serius menimpa Pinter. Tulang punggungnya patah dan beberapa bagian tubuhnya lainnya mengalami cedera serius. Akibat kecelakaan itu dia dirawat selama tujuh belas hari di Irian sebelum dikirim ke RSCM Jakarta. Nyawa Pinter memang bisa diselamatkan namun dia harus menanggung cacat serius seumur hidup. Bagian tubuh dari panggul hingga ujung kaki sama sekali tidak bisa digerakkan dan mati rasa. Dengan keadaan seperti ini perusahaan tidak menerimanya lagi untuk bekerja dan memberi pesangon seadanya.

Menghadapi kenyataan ini hati Pinter hancur. Dia kecewa. Namun yang menggembirakan, dia tidak putus asa. Dia lalu memutuskan untuk masuk panti. Pada 12 Feb 1996 dia masuk pada sebuah panti di Pondok Bambu. Di panti ini dia mendapat dan belajar aneka keterampilan seperti kerajinan tangan paper tool, bahasa Inggris dan komputer. Semua materi ia pelajari dengan sungguh-sungguh sehingga boleh dikatakan semuanya telah dia kuasai sampai tingkat paling paripurna. Asal tahu saja, Pinter tinggal di panti selama delapan tahun.

Karena merasa sudah cukup lama tinggal di panti, apalagi semua keterampilan di dalam sudah dia kuasai, Pinter memutuskan untuk meninggalkan panti. “Kalau saya tinggal lagi dipanti maka tidak ada perkembangan lagi sebab saya juga ingin menikah, punya rumah, mobil seperti orang sehat.

Kalau di panti saya tetap jadi anak binaan, tidak bisa menjadi tuan rumah. Saya juga ingin menjadi tuan rumah, tuan keluarga dan kalau bisa mempunyai turunan,” ujar Pinter.

Proses yang dialami Pinter menyebabkan dia kian berserah pada Tuhan. Sejak masih di panti, dia tidak pernah melewatkan berbagai kesempatan untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Dengan kursi rodanya dia selalu ke gereja.

BABAK BARU
Suatu saat Pinter ikut serta dalam sebuah rombongan peziarah ke Rangkasbitung. Ternyata di antara rombongan peziarah dia bertemu tiga sesama pengguna kursi roda. Salah satunya adalah Fransisca Lily. Di tempat ziarah itu mereka saling berbagi cerita hidup. Pinter mendapat cerita bahwa Lily tidak mempunyai kegiatan selain membantu memasak atau bersih-bersih di rumah. Lily juga menjelaskan bahwa dirinya tidak tamat SD. Padahal sebelumnya Pinter mengira Lily adalah orang kantoran.

Mendengar cerita itu Pinter menyarankan Lily untuk datang ke panti. “Siapa tahu kamu tertarik dengan kegiatan di panti,” kata Pinter. Dalam suasana penuh kehangatan berbalut atmosfer rohani aneka pengalaman hidup mengalir begitu saja.

Ternyata secara tak terduga tumbuh benih-benih cinta di antara Pinter dan Lily. Pinter melihat banyak nilai istimewa dalam diri Lily terutama soal kesederhanaan dan kesabarannya.

Keluarga Lily tidak merestui rencana pernikahan keduanya dengan alasan tidak adanya modal hidup ke depan. “Bagaimana bisa hidup kalau hanya mengandalkan hidup dari bingkai?” begitu kata keluarga Lily. Bingkai yang dimaksud adalah kerajinan tangan paper tool. Dalam bidang kerajinan ini, keduanya memang ahlinya.
(Loise Angelica)
 

 
 

Comments  

 
0 #1 desy 2010-06-23 18:25
Inspiring me
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

News Update

"Mohon dukungan & doanya untuk pelayanan YAMARI thn 2012. Rencana anggaran Rp.530 juta. Rencana penerimaan rutin & non rutin (pengurus & mitra) Rp. 277 juta. Masih diperlukan Rp.303 juta.
Jika Anda terbeban click disini

Sahabat Yamari

Member's Birthday

  • Erdiyanto Lumban Gaol
    birthday will Wednesday, 08 February 2012

Kalender Kegiatan

February 2012
S M T W T F S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 1 2 3
Find us on facebook
Retreat Nasional VI
Jubah Pujian

Pilih Bahasa

Renungan Firman

Latest Comments

  • saya sangat berminat utk bergabung dalam persekutu... More...
  • sssiiipppp nian.., :lol: More...
  • saya ingin naxa.,.,.,apakah seorang laki2 yg berag... More...
  • Alangkah terbatasnya kuasa Tuhan Yesus, sampai-sam... More...
  • saya sangat bersyukur membaca dan memperhatikan ap... More...

Shoutbox

Subscribe to sahabatyamari
kesaksian
Konseling & Doa
Pasang Iklan
Google Sitemap Generator Powered by  MyPagerank.Net

Friends Online

Powered by EvNix