
Nama saya Djumhana Kartasasmitha, lahir dari keluarga besar yang non Kristen. Kami sebelas bersaudara. Boleh dikatakan keluarga saya sangat taat beribadah atau menjalankan ritual-ritual keagamaan.
SAYA menjalankan ritual agama saya selama empat puluh sembilan tahun dengan taat. Karena memang, sejak kecil saya menjalankan ibadah dengan taat dan diajar melakukan semua ajaran agama dengan benar dan tertib.
Namun selama menjalankan itu semua, saya tidak pernah mendapatkan damai sejahtera. Bertahun-tahun saya menantikan damai sejahtera yang sejati tetapi tidak kunjung datang.
Saya lalu bertanya-tanya apa yang terjadi kalau suatu saat saya meninggal? Akan ke manakah saya kalau saya meninggal nanti?
Sampai satu hari saya mengalami depresi yang sangat kuat. Pada itu saya seperti tidak mempunyai pegangan, saya tidak tahu harus berdoa seperti apa dan memohon kepada siapa? Saat itu saya mengalami kekurangan oksigen dalam pesawat. Sepertinya saya sudah tidak mempunyai harapan lagi dan rasanya bisa hilang seketika. Saya tidak tahu apa-apa lagi. Pada saat itu juga istri saya memanggil nama Yesus dua kali dan saya sadar. Saya menikah dengan seorang gadis Kristen dan dikaruniani dua orang anak.
Dari kejadian itu saya sadar bahwa saya membutuhkan satu pribadi yang dapat memberikan jaminan kepada saya untuk kehidupan yang akan datang. Saya lalu mencari terus sampai saya dapat menemukan Dia, yakni Tuhan Yesus Kristus.
Sebenarnya saya sudah lama saya mendengar tentang siapa Yesus itu dari istri dan anak-anak saya serta dari banyak saudara saya yang Kristen, tapi saya tetap mengeraskan hati sebab saya telah mempunyai agama.
Hari sangat berharga itu kemudian datang. Tepat pada 31 Desember 2002 saya dapat menerima anugerah keselamatan dengan menyerahkan diri saya seutuhnya kepada Tuhan Yesus untuk menjadi Anak Allah dan warga Kerajaan Surga. Dan benar! Sejak saat itu saya menemukan damai sejahtera yang saya cari bertahun-tahun dan belum pernah saya dapatkan dari siapa pun di dunia ini. Saya bersyukur kalau saya boleh menerima anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus.
Saat ini saya baru mengerti bukan saya yang memilih Dia tetapi Dia yang terlebih dahulu memilih saya sejak dalam kandungan ibu saya. Dan kini saya merasa sebagai orang yang berbahagia sebab dapat menerima anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus.
Saya memang mengalami “proses” dengam keputusan saya menyerahkan diri kepada Yesus. Saya mendapat tekanan-tekanan dari lingkungan kerja dan keluarga. Tapi semua itu bisa saya lalui berkat pertolongan Tuhan. Saya kemudian mulai mengikuti Sekolah Doa yang dipimpin oleh Ibu Faight dan Ibu Lili. Di sekolah ini saya mendapat banyak pelajaran yang membuat saya semakin mengerti kebenaran Firman Tuhan. Saya juga kian merasa betapa saya berharga di mata Tuhan.
Saya orang yang berdosa yang seharusnya tidak layak menerima tempat di Surga tapi oleh kasih karunia Tuhan Yesus yang begitu besar kepada saya. Dia mau memberikan tempat dan pengampunan bagi saya. Mulai saat itu saya tidak takut mati lagi. Saya yakin saya dan saudara-saudaraku akan mendapatkan jaminan hidup kekal di surga nanti.
Tuhan Yesus, Dialah Allah yang mengasihi sehingga mau mengorbankan tubuhNya untuk disiksa dan mati di Kayu Salib. Dia rela dihina seperti orang yang tidak berguna. Dia tidak ingin semuanya binasa sehingga Dia mau turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita. Dialah Alah yang sanggup membela kita karena dia adalah Allah Pembela.





