A R T I K E L
 Poligami? Dilarang Keras!!  Pernikahan Kristen adalah pernikahan monogami, meskipun banyak tokoh-tokoh Alkitab melakukan pernikahan poligami. Sebut saja Abraham, Yakub, Daud, apalagi Salomo ...
 Memberi Keteladanan 
Menonton tayangan televisi tentang tingkah polah orang yang korupsi, yang ditangkap, diadili atau juga yang kabur, rasanya hati menjadi geram. Korupsi memang bak penyakit yang sedang ...
 more... 

Konsultasi & doa

SALIB ITU, BERAT NIAN

Sri Rastiti
Sri Rastiti

The Passion of The Christ- nya Mell Gibson dengan sangat menyentuh menggambarkan di layar lebar penderitaan Kristus ketika disiksa dan sengsara menuju Golgota. Bagi saya yang sangat menghunjam hati adalah ketika Kristus memikul Kayu Salib yang berat itu dengan tubuh yang sudah setengah mati. Terseok, jatuh, tertimpa kayu maut itu sungguh derita tak terperikan. Melalui jalan “via de larosa “, bukit terjal berbatu, nyaris mustahil Kristus bisa mencapai tempat penyaliban itu dengan masih ber nyawa. Kenyataannya Kristus akhirnya meregang nyawa saat proses penyalibanNya sempurna.


Lalu saya pun tercenung ketika Dia mengatakan, “Barang siapa hendak mengikut Aku, hendaklah ia memikul salib, dan ikutlah Aku”. Bagaimana saya tidak tercenung. Membayangkan beratnya salib dan mendaki bukit itu sudah sangat mengerikan. Apalagi harus memikulnya, yang merupakan salah satu syarat berat Bahwa Tuhan memberikan kita kebebasan memilih untuk ikut Kristus atau tidak, adalah suatu penghargaan bagi manusia yang diciptakan dari debu dan tanah.

Seandainya saja ketika kebebasan memilih tersebut Kristus hanya menjanjikan kalau mengikuti Dia, maka kita akan memperoleh damai sejahtera, penuh berkat, sukacita, kemenangan, kekayaan, kemuliaan, kehormatan, kesembuhan, dan banyak lagi janji indah yang memang dikatakanNya, saya tidak akan berpikir dua kali. Saya akan segera menjawab “ Ya, Yesus saya akan mengikut Engkau “. Dia yang tak pernah berdusta itu saya yakin pasti akan menepati janjinya.

Dia kan bukan para kontestan caleg, cagub,capres dan sebangsanya yang gegap gempita menebar janji saat kampanye pemilihan. Yesus pasti bukan seperti itu. Karena itu di sela janji keselamatan dan janji berkat, dia juga mengatakan yang sebenarnya, pahit dan menyakitkan. Ikut memikul salibNya, berarti ikut menderita dan sengsara.

Jadi ketika seseorang memutuskan dirinya untuk mengikut Kristus, sadarkah dia bahwa di balik janji yang indah itu juga ada salib yang tak terpisahkan, dan harus dipikul ? Antara salib dan janji bak dua sisi mata uang logam. Menerima keduanya atau tidak sama sekali.

Salib setiap manusia yang harus dipikulnya memang beragam, bisa berbeda. Bila seseorang menjadi pengikut Kristus dan karena itu pangkatnya tidak dinaikkan, atau tidak pernah dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi meskipun ia mumpuni, itulah salib baginya. Bisa jadi sese orang menolak untuk korupsi karena lebih baik hidup pas-pasan sebagai pengikut Kristus dari pada makan uang haram, padahal kesempatan terbuka lebar, itu juga salib. Dicerca, dihina, demi kebenaran tanpa harus melawan, juga merupakan salib. Pokoknya pe- nyangkalan diri yang menyakitkan dengan beribu jenisnya, itulah salib. Seorang pengikut Kristus harus pandai pandai meniti buih kehidupan agar terus berjalan tanpa melepas salib.

Syahdu memang mendengar atau menyanyikan lagu, “Saya mau iring Yesus” yang syairnya menggambarkan akan tetap mengiring Yesus meski hidup dalam pen- deritaan sampai selamanya. Tetapi tidak sesyahdu lagunya apabila kita hidup dalam penderitaan itu. Salib adalah identik dengan penderitaan karena namaNya.

Siapa mau menderita? Kalau penderitaan adalah suatu komoditi yang ditawarkan, maka tidak akan ada pembelinya. Anda pun tidak. Tetapi mengapa sampai saat ini Anda masih tetap menjadi Kristen dan mengikuti Yesus? Itulah mukjizat kasih. Mengasihi Dia, karena Dia lebih dulu mengasihi kita. Karena kasih itulah maka penderitaan memiliki kekuatan untuk bertahan, bahkan dengan sukacita. Dan ajaibnya kekuatan dan sukacita yang menyertai penderitaan berasal dari kasih karunia. Pasti bukan dari dunia ini. Tetapi dari Bapa yang juga memberi kekuatan kepada Kristus yang dalam penderitaanNya mengatakan, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak mengerti apa yang mereka perbuat “. Kalimat ini hanya bisa keluar dari bibir Kristus yang pecah dan berdarah saat sengsara di kayu salib.

Marilah kita tahu apa yang kita perbuat. Memikul salibNya, ikut menderita , tetapi bukan untuk selamanya. Seperti kisah terakhir di kayu salib, ada kebangkitan dan kemenangan serta suka cita. Amin

(Sri Rastiti)




 Webmail I Guest Book
 .::Copyright © 2005-2008 Yayasan Marturia Indonesia::.
Develop & Maintain by Yosua Wenas