A R T I K E L
 Poligami? Dilarang Keras!!  Pernikahan Kristen adalah pernikahan monogami, meskipun banyak tokoh-tokoh Alkitab melakukan pernikahan poligami. Sebut saja Abraham, Yakub, Daud, apalagi Salomo ...
 Memberi Keteladanan 
Menonton tayangan televisi tentang tingkah polah orang yang korupsi, yang ditangkap, diadili atau juga yang kabur, rasanya hati menjadi geram. Korupsi memang bak penyakit yang sedang ...
 more... 

Konsultasi & doa

ARSIP EDITORIAL
[ Artikel Rohani l Artikel Kesehatan l Editorial ]
"BUSUNG LAPAR, BIASA ITU..."

Kita pasti baca atau setidaknya mendengar berita tentang ibu hamil yang mati kelaparan bersama anak dalam kandungannya di Sulawesi. Selain itu, ada berita tentang puluhan anak di Timor, NTT yang menderita gizi buruk atau bahkan busung lapar. Tidak hanya itu...

Pokoknya, masih sangat banyak, bahkan mereka ada di antara dan sekitar kita. Apakah gejala tersebut mengentak kesadaran kita? Entah….!

Tapi yang pasti berita semacam di atas sama sekali bukan berita baru untuk banyak daerah di republik ini. Acap kali justru kita menjadi imun dengan tontonan sema-cam itu sehingga kem-udian menganggapnya biasa saja. Ibarat di sebuah daerah endemik malaria di NTT, masya-rakat menganggap sakit malaria sebagai sakit “biasa”. Sehingga seringkali kalau seseorang memberita kan Si A sedang sakit malaria, orang yang diberi informasi akan langsung mengatakan, “Ah! Itu sakit biasa. Minum saja rebusan daun pepaya pasti sembuh.” Padahal di mata “orang waras”, penyakit malaria adalah penyakit mematikan.

Bahwa baru sekarang ini gejala gizi buruk atau busung lapar muncul ke permukaan, itu hanya karena baru sekarang juga wartawan “sempat” menulis atau memberitakannya. Kalau saja para wartawan kita rajin mencari dan memberitakan kasus serupa, saya yakin media kita tidak akan pernah sepi dari berita gizi buruk atau busung lapar. Meski begitu, kita tetap berterima kasih kepada wartawan yang telah sempat menuliskan.

Apa yang harus dikatakan berhadapan dengan realitas semacam ini? Saling menyalahkan tentu saja bukan solusi. Bahwa ada yang salah itu pasti! Yang jelas hal tersebut disebabkan oleh telah matinya hati peduli kita. Kita menganggap biasa atau wajar saja kalau ada tetangga yang merintih lapar. Kita asyik membangun kerajaan sendiri di antara onggokan gubuk-gubuk derita yang seakan tak berpengharapan. Tidak sedikit pun nurani kita tergerak untuk menengok. Kalau pun mata sempat menyapu-lewat, kita dengan ringan berkata, “Inikan perbedaan nasib. Engkau begini dan aku begitu. . . . "

Mungkin saja tulisan ini terasa tidak fair karena menghakimi Anda tidak melakukan apa-apa, padahal Anda sudah melakukan aneka karya karitatif baik secara pribadi maupun kelompok.

Tuhan kita tentu saja tersenyum lebar kalau Anda sudah melakukannya, sebab karena alasan itulah Anda memilih Yesus sebagai junjungan. Meski begitu, Anda pun tetap menjadi sasaran tulisan ini agar Anda kian meningkatkan kepeduliaan. Sejajar dengan itu, ada ungkapan yang mengatakan “semakin seseorang tahu banyak, dia semakin merasa tidak banyak tahu”. Jadi semakin Anda berbuat baik hendaknya itu mendorong Anda untuk kian berbuat kebaikan.

Namun untuk menunjukkan sikap tidak peduli kita, saya ingin menyebut satu saja contoh. Pemerintah di sebuah kabupaten di NTT dengan bangga membangun sebuah kantor pemerintahan yang menelan biaya puluhan milyar. Sekali lagi, mereka bangga membangun kantor semegah dan semahal itu. Tapi mereka tidak terusik dengan realitas masyarakat mereka yang mengalami gizi buruk atau busung lapar. Pertanyaan mendasar: generasi macam apa yang menghuni kantor megah itu pada dasawarsa-dasawarsa ke depan? Mereka juga tahu, hanya pura-pura tidak tahu karena hati nurani telah beku!

Ingat, Yesus bersabda, “Apa yang kau lakukan untuk saudaraKu yang paling hina, itu kau lakukan untuk Aku”.
So what?




 Webmail I Guest Book
 .::Copyright © 2005-2008 Yayasan Marturia Indonesia::.
Develop & Maintain by Yosua Wenas