Sambutan

"Pertama-tama, saya ucapkan selamat berjumpa dengan YAMARI melalui website YAMARI. Terimalah salam dan sejahtera dari saya bersama seluruh Pengurus & Staff YAMARI dengan iringan doa, kiranya Tuhan Yesus Kristus memberkati Anda bersama seluruh keluarga dalam kehidupan, pekerjaan dan pelayanan tiap-tiap hari.
Saya merasa senang dan bahagia dapat memperkenalkan pelayanan YAMARI kepada Anda melalui website ini, dengan harapan Anda dapat semakin mengenal pelayanan YAMARI.
Sementara Anda membaca bagian-bagian dari pelayanan YAMARI, saya berdoa kiranya Tuhan berkenan berbicara dalam hati Anda dan menyatakan kepada Anda apa yang dapat Anda lakukan untuk mengambil bagian bagi pekerjaan-Nya melalui pelayanan YAMARI
Salam dalam kasih-Nya,
Ev. M. Bambang Soewono
Sekretaris Umum
Pelayanan Pekabaran Injil dan Pembinaan Iman YAMARI telah diselenggarakan di Pulau Enggano dan Bengkulu daratan tanggal 8- 20 Juni 2012. Tim yang melayani adalah Ev. M.Bambang Soewono, Ev. Agung Minarso, Ev. Petrus Tadu, Pdt. Maria Novi Kurniawan dan Pdt. Maria Nina Zunaria. Tim berangkat menuju ke Bengkulu tanggal 8 Juni 2012 pukul 10.00 WIB dengan pesawat Batavia Air. Tiba di Bandara Fatmawati-Soekarno, Bengkulu, tim YAMARI dijemput Pdt. Supriyanto bersama Pdt. Sutrisno dengan mobil bak terbuka. Tim langsung diantar ke pelabuhan penyeberangan Bai-bai menuju pulau Enggano dengan kapal laut. Perjalanan laut ditempuh 12 jam dari pukul 17.00 - 05.00 WIB. Tiba di Pelabuhan Kayaapu, Enggano dinihari disambut Pdt. Waldon dan teman-teman.
Pulau Enggano adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang merupakan bagian pemerintahan Bengkulu Utara. Nama “enggano” berasal dari bahasa Portugis yang artinya kecewa. Setelah kunjungan Cornelis de Houtman ke pulau ini tanggal 5 Juni1596, maka namanya menjadi pulau Enggano.
Read more... Comments (2)
Dirundung rasa ketakutan akan sebuah kematian bisa dirasakan siapa saja begitu juga halnya dengan Theresia Herawati (48), istri Pdt. Simson Pudjianto, S.Th. Namun, ketakutan itu akhirnya berubah menjadi sukacita saat Theresia yang akhirnya berserah kepada Sang Penulis Hidup. Tak pernah terbesit dalam benak Theresia jika penyakit gagal ginjal tengah mengintai tubuhnya.Wanita yang mendampingi hidup Pdt. Simson Pudjianto, S.Th dengan setia ini tersentak kaget saat dokter memvonisnya untuk segera dilakukan cuci darah. “Untuk pertama-tama dia menghindar namun akhirnya bersedia juga,” cerita Simson di awal cerita.
Penolakan yang disinyalir sebagai ekspresi rasa takut akan sebuah kematian memang wajar dirasakan oleh setiap manusia. Terlebih lagi saat mengetahui bahwa ginjal Theresia mengalami kerusakan. Sebagai seorang suami tentu Simson berusaha untuk menenangkan hati sang istri tercinta. Apalagi, dari waktu ke waktu penyakit tersebut seolah tak kenal kompromi. Demi kesembuhannya Theresia harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cikini Jakarta. Infus, tabung oksigen dan peralatan medis lainnya menjadi teman setia dalam keseharian ibu dua anak ini. Belum lagi keadaan stabil atau bahkan sebaliknya merupakan kondisi rutin yang terkadang kerap membuat jantung Simson sekeluarga berdebar.“Dalam jangka waktu beberapa bulan bisa bolak balik opname,”ungkap Simson.

Lahir dari keluarga miskin tak serta merta membuat Andy F. Noya menuntut balas kesulitan hidup yang pernah dirasakannya dulu. Hidupnya telah berubah sejalan dengan kariernya yang melesat di dunia pemberitaan. Ia juga bisa dikatakan mapan secara finansial. Namun ketika sebuah perusahaan terkemuka ingin menggaetnya menjadi ikon produk mereka, dengan nilai kontrak yang cukup menggiurkan, Andy justru menolaknya. Baginya, hidup tak sekadar uang semata melainkan harus berguna bagi orang banyak.
Nekad Jadi Wartawan
Besar dalam keluarga dengan keadaan miskin menjadi realitas hidup yang harus diterima Andy saat itu. Tak terkecuali, kisah pilu yang harus dihadapinya saat orangtuanya memutuskan berpisah. Andy dan kedua kakak perempuannya memutuskan ikut ibu sedangkan kedua kakaknya merantau ke Jakarta untuk mencari penghidupan sendiri. Sebagai single parent dan demi mencukupi kebutuhan hidup ketiga anaknya, ibu Andy bekerja sebagai kasir. “Pagi hari ibu sudah mesti berangkat bekerja sehingga saya dan kedua kakak saya terbiasa hidup mandiri. Mulai dari mengatur pekerjaan rumah, sarapan, hingga pergi ke sekolah, kami lakukan sendiri,” kenang Andy.




