
Dengan semangat pelayanan yang menggebu-gebu, pada tanggal 11 September 2009, saya, Ev. Simon Petrus Tadu dan Pdt. Tambus Sihombing, berangkat dari Jakarta ke Kabupaten Sambas Kalimatan Barat, menumpang pesawat terbang. Yakni, untuk melayani masyarakat di 13 desa yang kabarnya sangat membutuhkan pelayanan iman.
Kami sampai ke daerah tujuan. Walau harus penuh perjuangan fisik, karena medannya yang berat. Jalannya tak beraspal, dan dipenuhi lumpur. Akibatnya, motor ojek yang kami sewa sampai terpelanting. Tetapi, puji Tuhan, kami tidak mengalami luka berarti.
Desa Wajo, Jungkat, Aruk (perbatasan Indonesia-Malaysia), Biawak (Malaysia), Beruang, Sapak Hilir, Elok Kolong, Sungai Oreh, Sungai Daun, Mejo, Sungai Nou, dan Desa Planjau, merupakan 13 desa yang kami sambangi.
Di 13 desa itu perdukunan, santet, penyembah berhala dan pemberian sesajen kepada arwah atau dewa masih merupakan warna sehari-hari.
Tentang Gereja, sangat memprihatinkan. Ada Gereja yang jadi kandang kambing. Lalu, kabar Pemimpin Gereja setempat yang tidak hidup sesuai firman Tuhan. Kabarnya, ada tokoh Gereja yang kerjanya memproduksi minuman keras. Mengapa sebagian Gereja setempat selalu kosong melompong di setiap kebaktian? Kalau pun ada jemaatnya, maka jumlahnya sangat sedikit. Padahal di ke-13 desa itu relatif merupakan kantong umat Kristiani di Kalimantan Barat.
Masalahnya cukup kompleks. Contoh, umat Protestannya banyak, namun tidak ada Gereja mau pun Hamba Tuhan yang menanganinya.
Sebenarnya cukup banyak umat Kristiani (Katolik dan Protestan) yang rindu dilayani. Kalau pun akhirnya menjadi animisme, maka itu pun relatif hanya sekadar pelarian untuk mengisi kekosongan rohani.
Yang tidak kalah memprihatinkan adalah tidak sedikit anak Kristiani yang sama sekali tidak mengetahui apa itu Alkitab. Itu karena mereka tidak pernah melihatnya, dan tidak pernah mendapat pelajaran tentang Alkitab.
Hampir semua jemaat usia 60-an tahun di 13 desa itu kini hidup dalam kuasa gelap? Tidak lagi mengenal Yesus, walau di KTP mereka masih terdaftar sebagai umat Kristen.
Putus asa? Tidak! Kami malah makin bersemangat untuk menyebarkan firman Tuhan. Jerih payah tim akhirnya terbalas setelah Tuhan menggerakan hati 100 masyarakat setempat untuk menyatakan iman percaya mereka kepada Tuhan Yesus Kristus.
Selama melayani, kami di dampingi tiga hamba Tuhan Gereja Sidang Pentakosta di Indonesia (GSPdI), yakni Pdt Zulkarnain Sarif, Pdm Purwanto Darmono, dan Pdm Robert. Di samping bantuan dari Sdri Ev Iva Tasya dari GSPdI Desa Wajok Hulu, Kecamatan Siantan, dan Sdr Jonathan Sihombing dari PI GSPdI Jungkat, Pdm Purwanto Darmono dari Pos PI Desa Aruk, serta Pdm Robert Joko Susilo dari Pos PI Planjau.
Dalam pesawat pulang ke Jakarta, saya berdoa, minta agar Tuhan Yesus mau melawat masyarakat di 13 desa itu. Dan agar kami dapat kembali berbuat yang lebih baik. Amin! (pt)




