
Firman Tuhan bersabda untuk memberitakan Injil tidak hanya ke Yudea dan Samaria, namun juga ke ujung bumi. Untuk skala Indonesia, kawasan lereng Gunung Bromo, dan Pegunungan Tengger pada umumnya, dapat dibilang sebagai salah satu “ujung bumi” itu.
Seperti yang diperintahkan Tuhan Yesus untuk pergi memberitakan Injil sampai ke “ujung bumi”, Tim Yamari pada akhir Bulan Juli lalu telah menembus Gunung Bromo, daerah yang dikenal beragama mayoritas Hindu Tengger. Mereka merupakan keturunan prajurit Majapahit yang melarikan diri saat kerajaan besar itu hancur, dan Jawa kemudian dikuasai oleh Kerajaan Islam.
Bertempat di Desa Jetak dan Keduwung, di atas ketinggian lebih dari tiga ribu meter, tim Yamari memutar film rohani tentang Tuhan Yesus. “Kami juga membagi bahan pokok untuk 25 orang miskin di Jetak dan Kedawung,” kata Ketua Tim PI-Bromo, Sylvia Tunggalwidjaja. Ada enam anggota tim hadir dalam pelayanan ini yakni Ev.Sylvia, Ev. Christiana, Ev. Agung Minarso, Sdr. Agus Huwae serta Ev. Yenyen dan Ev. Lily.
Penduduk di kawasan ini menjadi manusia luar biasa yang “tahan dingin”. Begitu dinginnya, masyarakat di sana seperti tak bisa lepas dari sarung dan kerpus (semacam penutup kepala sebagai pelindung dari hawa dingin), bahkan pada siang hari sekalipun. Maklum, dinginnya udara di obyek wisata unggulan Jawa Timur itu, kadang menembus batas nol derajat celcius.
Di tengah-tengah masyarakat yang kebanyakan P I Bromo bertani kentang dan kol, tim melakukan 13 kali pelayanan, termasuk berkunjung ke rumah-rumah penduduk. “Luar biasa pekerjaan Tuhan dalam lawatan kali ini. Kami melayani mereka yang kena guna-guna maupun menderita sakit,” kisah Sylvia.
Keseluruhan acara, baik di gedung gereja, lapangan maupun rumah penduduk, dihadiri tak kurang dari 830 orang. “Sebanyak 484 diperbaharui imannya, seorang menerima Yesus dan dibaptis, serta dua orang lain siap melayani Tuhan,” paparnya.
Karena itu, tepatlah sebuah pujian yang menyatakan, “Marilah kita memuji dan memuliakan namaNya yang dimasyurkan di gunung-gunung, bukit-bukit dan lembah-lembah. Biarlah nama Tuhan semakin dijunjung tinggi...”






