Pertengahan tahun ini, tim Pekabaran Injil Yamari kembali berangkat ke Kalimantan Tengah. Mulai 19 hingga 31 Mei 2008, Pdt. Tambus Sihombing, Ev. Agung Minarso, dan Ev. Deddy Dantjie mengunjungi beberapa desa di Kalteng, antara lain Tumbang Bantian, Tumbang Kolon, Tumbang Apat dan Battu Merrau.
“Pelayanan kali ini memiliki tujuan khusus yakni menindaklanjuti lawatan pertama pada awal tahun untuk memantau perkembangan jemaat dan penempatan hamba Tuhan ke beberapa desa di sana,” papar Ev. Agung Minarso.
Agung menjelaskan, kondisi bangunan gereja di Kalteng amat memprihatinkan. Ia mengatakan, gereja di Sungai Lunuk belum selesai pengerjaannya, sementara di Batu Mirau baru selesai atapnya, di Tumbang Kolon, Tumbang Apat, Tumbang Usang, Tengganong, dan Tumbang Hulu belum memiliki tanah dan bangunan. Ada juga yang sudah memiliki tanah, misalnya di kawasan Tumbang Bentian.
“Tanahnya sudah ada dengan status milik GPdI, namun bangunannya belum berdiri,” kata Agung. Sementara itu, di Desa Hanangan, gereja sudah berdiri bangunan secara fisik. “Namun, kondisinya sangat tidak layak. Lebih tepat dikatakan sebagai bangunan sementara saja,” tambahnya.
Seperti umumnya pelayanan ke daerah, acara diisi dengan Kebaktian Kebangunan Rohani, pemutaran film rohani, dan Ibadah Raya di Hari Minggu. “Selain itu, kami juga mengunjungi dan mendoakan keluarga ke rumah mereka, serta melakukan baptisan air untuk mereka yang baru mengaku percaya kepada Yesus,” lanjut Agung.
Yang menggembirakan, KKR dan pemutaran film mendapat antusiasme cukup tinggi dari masyarakat. “Rata-rata dihadiri antara 150 hingga 300 orang, dengan jumlah mereka yang maju didoakan sekitar 20 sampai 60 orang, baik anakanak,kaum muda, dan dewasa,” jelas Agung. Tentu saja, tim juga membagikan gitar, Alkitab, dan buku bacaan sebagai penunjang kegiatan bagi gereja setempat.
Aneka masalah dan keberhasilan
Berbeda dengan pelayanan PI sebelumnya, Agung mencatat ada berbagai tantangan dalam pelayanan kali ini. “Dalam pelayanan di Tumbang Bantian, kami mendapat serangan hujan deras, hingga layar untuk pemutaran film hancur dan roboh,” kisahnya. Ditambah lagi, kiriman genset dan perabotan lain terlambat datang karena truk mengalami kerusakan di jalan. “Maklum, jalan di Kalimantan banyak yang rusak dan berlubang,” cerita Agung.
Pengalaman menarik lain berkisar pada sulitnya keadaan alam di salah satu pulau terbesar di dunia itu. “Naik ojek sangat mahal, bisa ratusan ribu rupiah sekali jalan. Naik bis pun bisa memakan waktu hingga 18 jam dengan kondisi jalan amat buruk,” ungkap Agung. Ia juga menambahkan, selama di Kalteng, tim PI mandi di sungai yang airnya berwarna cokelat. “Sungai itu juga dihuni ikan buntal ganas, yang dapat memakan bagian tubuh manusia,” terangnya.
Namun toh, dalam Tuhan tidak ada pekerjaan yang sia-sia. Dalam pelayanan di Desa Tumbang Kolon, seorang yang sakit buta sebelah kiri dapat melihat setelah didoakan. “Sementara itu, seorang yang sakit parkinson mendapat kekuatan baru setelah menerima kabar Injil,” kata Agung.
Lain lagi di Tumbang Apat, seorang anak muda lumpuh dapat berjalan setelah didoakan. “Di Battu Merrau kami mendoakan beberapa warga bermasalah dan anak-anak, termasuk juga mendoakan seorang yang sakit muntah darah, meski kami sempat dilarang keras oleh dukunnya,” kisah Agung.
Kabar gembira juga mereka dapat saat mengunjungi Puruk Batu dan mendapat penambahan jiwa baru dibanding pelayanan beberapa bulan sebelumnya. Agung melanjutkan, “Di Sungai Punut, kami mendoakan seorang bapak yang mendapat kekuatan dalam sakit parahnya. Sedangkan di Tobulang, seorang anak muda yang beberapa bulan lalu kami doakan karena rambut alis dan kepalanya rontok kini rambutnya tumbuh lebat kembali. Puji Tuhan!”
Didi / AM





