
Tujuan mereka, selain ikut mission trip juga ingin berobat di Clifford Hospital bersama Ina Astuti. Rumah sakit ini terkenal mujarab dan sering dikunjungi pasien dari berbagai negera.
Esoknya (17/4-2008), kami terbang dengan pesawat Tiger menuju Guangzhou. Sementara Pdt.Andreas dan pengurus MHM Surabaya, Ibu Linda Susanto sudah menunggu di Chi Fu, kota satelit di Guangzhou. Bersama pemilik Clifford Hospital kami mengadakan ibadah di aula rumah sakit. Bagi kami ini adalah surprise, pasalnya di negara komunis seperti ini biasanya tidak boleh mengadakan ibadah secara terbuka. Bagi kami ini merupakan barang mahal dan langka. Apalagi RS ini secara khusus membangun aula kecil untuk ibadah. Lazim jika bangunan tersebut ada di Indonesia yang notabene memang negara beragama, namun tidak bagi China.
Menikmati
Ibadah dipimpin Pdt.Andreas yang di dampingi dr.Zhang Xi Kuan (satu dari dua dokter Kristen di RS tersebut) dan dihadiri lebih dari 50 orang. Usai kebaktian, Ibu Linda, sponsor Yamari ke China dan merupakan perwakilan RS tersebut di Indonesia mengajak berkeliling ke area yang berdiri di atas tanah seluas 8500 meter. Rumah sakit ini memiliki 600 ruang rawat inap dengan fasilitas hotel bintang lima.
Setelah lelah berkeliling, kami pun dimanjakan dengan fasilitas yang tersedia di RS dengan gratis. Kami menikmati perawatan pijat refleksi yang dilakukan para tenaga medis/dokter. Ada perbedaan yang sangat signifikan usai kami menjalani terapi tersebut, apalagi setelah kami menikmati mandi uap/sauna dengan perlengkapan canggih.
Tak ada habisnya setiap kami berdecak kagum dengan pelayanan RS tersebut. Hanya satu yang kam sayangkan, kurangnya penerjemah bahasa sehingga setiap kami terpaksa menggunakan bahasa “tarzan” dalam berkomunikasi. Hal ini terjadi karena rata-rata dokter dan staf tidak bisa berbahasa Inggris. Syukur ada Ronny Tanoyo, sarjana kedokteran tradisional China yang bergelar Sinshe. Ronny berasal dari kota Surabaya, khusus ke China untuk belajar di perguruan tinggi kedokteran trasional China (Medical Traditional China) di Beijing.
Usai dimanjakan dengan pijat dan mandi sauna, tim diajak menginap di apartemen Ibu Linda. Kami juga berkesempatan mengikuti ibadah Minggu di kota Chi Fu, tempat kami tinggal. Selain Tim Yamari, kami juga berjumpa beberapa rombongan dari Bandung dalam kebaktian tersebut. Dan pada kesempatan tersebut tim Yamari didaulat maju ke depan untuk memberikan kesaksian pujian. Gereja berkapasitas 100 orang itu nampak padat dan ibadah pun berjalan dengan lancar.
Gereja bawah tanah
Hal yang kami rindukan selama menjejakkan kaki ke negeri China ini akhirnya terkabul juga. Yaitu, mengunjungi tempat ibadah bawah tanah. Di tempat tersebut (maaf tidak kami sebutkan nama tempatnya karena terlalu riskan) diadakan seminar dan ibadah. Acara tersebut dihadiri hamba Tuhan. Kami didampingi Lie (sebut saja namanya demikian), seorang anak hamba Tuhan yang sudah meninggal. Lie mengantikan ayahnya mengembalakan jemaat di tempat itu bersama dengan ibunya.
Cukup jauh perjalanan kami ke tempat tersebut. Dari Guangzhou kami harus naik pesawat selama dua jam, setelah itu kami dijemput minibus. Setelah kami beristirahat, keesokannya (Jumat,11/4), seminar dan kebaktian pun berlangsung. Sekitar 250 hamba Tuhan dari gereja bawah tanah dan pedesaan berkumpul. Dengan antusias mereka mengikuti setiap sesi yang berjalan secara marathon.
Acara ini berlangsung disebuah bangunan yang kabarnya dibangun oleh donatur dari Korea. Ibadah dimulai dari jam empat pagi. Dimulai dengan doa bersama selama dua jam setelah itu mereka sarapan di halaman terbuka yang terletak disamping aula.
Menu sarapan adalah bakpao dan mie kuah. Seusai makan, seminar pun dimulai. Sebagai pembicara adalah Pdt.Andreas Abdianto yang dengan lancar berbahasa Mandarin. Di aula dengan fasilitas sederhana itu, para pemimpin gereja bawah tanah yang terdiri dari pria dan wanita muda maupun tua dengan antusias mendengarkan.
Oleh : Sri Rastiti




